![]() |
FLP Ranting UIN Malang & Aura Pustaka |
“Dua hari lagi, bersiaplah kau
diujung jalan. Aku akan menjemputmu dengan sepeda terbang”
“Jangan bercanda Mas, mana ada
sepeda terbang?”
Benar-benar
gila kau Mas. Mana ada sepeda terbang di dunia ini. Rupanya kau terlalu banyak
makan gaplek . Hingga syaraf otakmu yang bersimpul menggulung, semakin tak
berbentuk. Ah, kau gila, dan aku semakin
tergila-gila padamu.
“Sudah siapkah kau menjemput pagi?” Katamu diujung sana.
“Tentu, perutku sudah bosan
dengan bongkahan gaplek, adik pun tak henti merengek, mengingatkan biaya sekolah yang menggunung. Kapan kita
berangkat menjemput pagi?”
***
Entahlah
bagaimana nasib emakku di rumah, apakah anaknya telah bertambah lagi? Saat kutinggal perutnya sudah
buncit. Aini adiku yang selalu berkuncir kuda, apakah dia masih tetap
bersekolah?
“Sudahlah , lakukan saja. Aku ikhlas kok” Aku
terkesiap. Manusia seperti apa kau Mas. Mudah sekali kau bilang ikhlas
didepanku. Rupanya syaraf otakmu semakin bergulung-gulung. Kau benar-benar
gila, gila yang akut. Dan kini aku tak mau lagi menggilaimu.
“Kau bisa dapat uang banyak
disana, seratus, dua ratus, satu juta, sepuluh juta. kecil” Katamu menyempilkan jari.
“Aku tak butuh uang.”
“Haha, Tak butuh uang katamu.
Munafik.!!!”
***
Tubuhku remuk
tak berbentuk. Satu bulan yang lalu kau datang padaku. Menggamit lenganku dan
membawaku dalam senja baruku. Akankah kau menaruh iba padaku Mas. Lihatlah kini
aku tak seperti dulu lagi. Aku menolak menjual diriku. Diriku yang selama ini
kujaga harus kulempar begitu saja. Lupakan ide gila itu Mas.
Aku menjadi
wanita pecinta perkakas rumah tangga sekarang. Wanita baja yang harus siap
bekerja apa dan kapan saja. Sebersit elakan dan sebuah kesalahan berhadiah
godam neraka untukku. Hanya sebuah piring yang pecah, wanita setengah tua itu
mengganjarku dengan garis-garis merah berdarah di punggung.
Lelehan minyak
berasa rendang masih ada di sudut bibirku. Aku selalu menikmati sensasi rasa setelah ritual mencuci
piring usai. Ada syukur kecil dihatiku. Disini aku bisa merasakan makanan
mewah. Hanya rasa tanpa rupa. Aku adalah anjing berkepala manusia. Kujilati
piring-piring bekas mereka, hingga lidahku kaku. Aku lapar.
Aku berjalan terseok-seok ke
sudut ruangan. Dua kursi kayu yang berdampingan kupaksa untuk berpangkuan.
Kuangkat kakiku menaiki punggung kursi. Ah ngilu sekali rasa kakiku. Rupanya
setrika mendidih itu berhasil membatasi jalang langkahku.
Aku berjingkat. Tanganku berhasil meraih binatang melata mini itu. Geli
rasanya. Kubawa dia di sudut kamar. Kubuka gelungan tanganku. Ha….mata kawan
kecilku ini berkedip, merangkak ke pergelangan tanganku. Tenanglah Kawan. Aku
terkekeh-kekeh. Tertawa. Menertawai diriku yang mulai lupa seperti apa tawa
bahagia.
“Bagaimana rasanya semalam di neraka gadis
desa. Nikmat bukan!” kata wanita setengah tua itu tekekeh. Aku hanya tersenyum
sengit. Berjalan cepat meninggalkannya, meski dengan kaki berdarah-darah.
“Mau kemana kau?”
“ Ke dapur”
“Hey pembangkang, dengarkan aku
baik-baik. Mulai hari ini ucapkan salam perpisahan untuk piring-piringmu dan
semua perkakas rumahku. Aku tak sudi lagi melihatmu”
“Benarkah ucap bibirmu itu, wahai
Nyonya besar”
“Iya. Bersiaplah kemasi
barang-barang bulukmu dan enyahlah dari rumahku. Ingat jangan lewat depan
restoran. Aku tak mau pelangganku melihatmu”
“Kau tak mau mereka tau bahwa kau
adalah manusia busuk yang telah menebar aroma kematian untukku?”
Plakkkk!!!!
***
Mas, andai aku
tahu dimana kau sekarang pasti aku tak akan menghina seperti ini. Hidup meminta
receh dan lembaran uang di perempatan jalan hanya untuk makan. Aku masih ingin
hidup dan bertemu denganmu. Aku rasa hidup seperti ini lebih baik daripada
berkubang luka di rumah wanita setengah tua
itu.
“Hey cantik, bangunlah!” Sebuah
suara menghempaskan mimpiku. Aku menggeliat.
“Mas, benarkah ini kau ?” tanyaku
menggila sambil meraba wajahmu
“Iya, ini aku. Bangunlah Cantik.
Emperan toko ini tak cocok untukmu”
“Kemana?”
Kau hanya
tersenyum. Kau ajak aku menaiki mobil hitam mengkilat. Mulus. Apakah ini
mobilmu Mas? Hey kenapa aku baru sadar. Kau telah berubah Mas. Lihatlah dirimu.
Berbaju jas dengan kerah biru laut menyembul. Dasi senada menjuntai. Wajahmu
pun bersih. Lihatlah itu sepatu pantofelmu menyilaukan mataku. Sangat kontras
dengan sandal jepit dan kaki bersisikku. Mas, apakah Kau telah bertemu pagi?
“Mandi lalu tidurlah. Kau tampak
lelah sekali. Ganti bajumu dengan baju ini” Kau menyerahkan potongan baju tidur berwarna biru, rupanya kau masih ingat
dengan warna itu Mas. Warna langit pagi yang selalu kau ceritakan.
Guyuran air
membasahi tubuhku. Segar sekali rasanya. Entahlah sudah berapa hari dingin air
tak menyentuh syaraf kulitku. Kubiarkan rambut kumalku mencecap wangi shampo.
Tubuhku bagai taman bunga sekarang. Mewangi bersemi.
***
Mas, sebulan
tinggal di istanamu,aku merasakan lembayung senja mulai menjauhi hidupku. Kau
benar-benar beruntung. Sekarang kau menjadi bos sebuah perusahaan besar di kota
ini. Uangmu bermiliar-miliar tersimpan di berbagai bank. Kau tak perlu
berjibaku dengan lelehan keringat untuk mendapatkan sesuatu seperti di desa
dulu, saat kau menjadi kuli batu.
Kau benar-benar
telah menemukan pagimu Mas, kenapa kau tak mengajakku serta? Kau tahu aku
sangat merindukan pagi. Atau kau ingin aku mandiri? Menemukan pagiku sendiri.
Kalau begitu beritahukan padaku dimana pagi berada.
“Mas kapan Kau akan menikahiku?”
kuberanikan diri bertanya padamu saat malam mulai menusuk.
“Menikahimu??”
***
“Tinggalah disini, banyak wanita sebayamu. Kau
pasti senang.” Katamu dengan kerling mata.
“Tempat apa ini?”
“Masuklah” kau menggandengku
pelan. Kita berdua serupa perindu cinta yang hendak mencatatkan diri sebagai
satu raga. Serasi. Apa kau merasakan juga Mas?
Euforia udara menyatu dalam helaku.
Segar. Sangat berbeda dengan hela yang kususuri di jalan-jalan. Beberapa
kotak-kotak kayu terbuka. Apa aku tak salah lihat? Mereka ini manusia atau bidadari?
Satu dari wanita jelita itu menyapamu Mas. Hormat.
“Shara, apakah Pak Handoyo sudah
tiba?”
“Belum, tunggu saja di kursi
hijau itu.” Kata jelita bernama Shara
Mataku terpaku
pada lampu jumbo bercecar kerlip di atasku. Betapa terangnya. Ia tak sendiri
ada cahaya-cahaya mini menyembul di celah-celah plafon menemani tugasnya
menerangi ruangan.
“Kenapa lampu ruangan tetap
menyala Mas? padahal matahari belum lelah menebar cahaya”
“Tak ada matahari, di tempat ini hanya ada rembulan. Tempat ini akan gelap bila tak ada lampu.”
“Tak ada matahari ?” Aku terkesiap.
“Disini hanya ada malam yang tak
pernah terengah menjemput siang”
“Aku ingin pagi Mas, bukan malam.
Apa kau sudah lupa?”
***
Aku
mematut-matut diri di cermin. Aku cantik. Tak beda dengan Shara bidadari jelita
yang kutemui tempo hari. Apa aku telah menjadi bidadari?
“Ya, kau telah menjadi bidadari
sekarang” ebuah S suara serak menyusup di gendang
telingaku.
“Siapa kau?” tanyaku pias.
Wanita ini
benar-benar mengerti pikiranku. Apa dia juga bidadari? Kalaupun ia bidadari
mungkin ia bidadari yang malas berhias. Tak ada rona pipi dan gincu di
bibirnya, sepertinya ia sudah terlalu lama tak tersentuh bubuk bedak. Hanya
mata tajam dan hidung mancungnya yang mengatakan padaku ia cantik. Cantik yang
sederhana.
“Kau senang tinggal disini Arini?” Tanyanya padaku.
“Tentu. Disini aku menjadi
bidadari” Kataku berbinar
“Pergilah, kesenanganmu hanya
kamuflase. Kau akan menyesal!” kata wanita
itu tegas.
“Kau salah, aku tak akan pernah
menyesal. Karena sebentar lagi aku akan bertemu pagi”
“Pagi yang kau cari tak ada
disini, kau hanya akan menemukan senja. Senja kelam yang bergerak malam”
***
“Sudah siap cantik?” Kata lelaki tanggung itu.
Meringsek mendekatiku setelah sebelumnya mengunci kotak kayu.
“Cukup Handoyo ! Aku bukan
istrimu!”
“Apa kau tak ingin bertemu pagi Cantik”
“ Ini bukan pagi keparat! Ini
gulita !”
“Diam! Aku membayar mahal pada Dandi bukan untuk mendengar ocehanmu tapi tubuhmu”
Lelaki itu mendengus-dengus
mendekatiku. Ia benar-benar babi berkepala manusia di mataku. Berkali-kali kucoba lepas dari
cengkramannya. Tak ada guna. Tubuh cekingku tak sebanding dengan babi laki-laki tambun itu. Dia mengunciku dengan
tangan kekarnya.
“Tolonnggggg”
“Hahhahahhaha…..percuma kau
melolong cantikku”, tak ada yang mendengar. Disini semua telinga tuli
hwehewhehee” Ia masih terkekeh dengan liur
meleleh-leleh.
Dia memcoba mencuri bibir perawanku. Ahhhh….Aku benar-benar risih. Muak.Jijik. Kutendang
senjata keramatnya dengan sisa tenaga. Dia mengaduh tak karuan. Melompat-lompat
serupa kelinci. Aku bisa keluar dari cengkraman babi busuk itu. Kubuka
kotak kayu. Terbirit-birit meninggalkan Handoyo dan birahinya yang
meletup-letup.
Entahlah sudah
seberapa jauh aku berlari hingga aku terhenti di sebuah danau dengan bebatuan
pualam. Kubasuh mukaku dengan air yang bening. Kututup wajahku dengan kedua
tanganku. Kubiarkan simfoni alam dan partikel air merasuki tubuh letihku.
“Arini, masihkah kau mengenalku?”
“Wanita cantik sederhana” Kataku takjub. Bagaimana ia tahu aku disini?
“Apakah Handoyo menyentuh
mahkotamu?”
“Tidak, aku berhasil menumbangkan
babi gila itu” Kataku bangga
“Syukurlah, Pergilah Arini.
Jemputlah pagimu” kata wanita cantik sederhana itu seiring langkahnya menjauh
dariku.
“Tunggu !!!! Wanita cantik sederhana, jelaskan padaku tempat apa ini, kenapa seluruh
gadis disini tuli, seluruh pria berkepala babi dan semua orang tak berhati
nurani?”
“Pulau ini adalah pulau birahi,
seluruh gadis yang dikirim ke pulau ini dipaksa untuk memenuhi nafsu pria-pria
kurang bahagia. Pria yang hanya mendewakan tubuh wanita semata. Pulau yang
dipenuhi dengan manusia yang berotak menggulung dan bersimpul mati. Tak ada
lagi hati nurani.” Papar wanita cantik sederhana.
“Lalu kenapa bidadari-bidadari
cantik itu tuli?”
“Mereka tidak tuli tapi terpaksa
tuli, agar ia tak semakin disakiti oleh pria-pria yang menikmati tubuhnya.
Pria-pria itu sudah membeli tubuh mereka dengan harga tinggi untuk diperlakukan
sesuka hati.” Wanita cantik sederhana menyusut mata basahnya.
“Apakah mereka tidak pernah
melawan?”
“Tak semua wanita punya jiwa
pembangkang dan pemberani sepertimu Arini, bagi mereka uang bayaran yang tak
seberapa jauh lebih penting” kerling mata wanita sederhana itu menusuk mataku.
“Tak semua lelaki berhati busuk wahai gadis cantik sederhana. Aku punya
lelaki yang baik. Suatu saat nanti kukenalkan kau padanya”
“Hahhahha….Dandi baik kau bilang?”
Dandi? Bukankah
ia nama lelaki yang disebut Handoyo. Laki-laki yang berniat menukarkan
kesucianku dengan uang. Dandi…Mas…
“Iya Arini, Dandi, itulah nama
lelaki yang kau agungkan” Lagi-lagi wanita cantik sederhana
ini mengerti titian pikirku. Aku terkesiap. Benarkah?
“Dimana dia sekarang?”
“Dia sudah kuantarkan ke neraka
tadi pagi”.
“Apa? Apakah ia benar-benar telah
mati?” Aku tergugu
“Ia mati di bawah pohon cendana
dengan seikat tali dan sebotol obat nyamuk”
Mas, kau tega padaku. Kau balas cintaku dengan
nyanyian syetan. Kesucian diri yang mati-matian kujaga untuk kupersembahkan
padamu. Kau nodai dengan tingkah iblismu. Sudahlah , lakukan saja. Aku
ikhlas kok, terngiang kata-katamu Mas. Apakah kau mati dengan ikhlas? seikhlas kau
jual keperawananku?
“Pergilah Arini, pulanglah ke
rumahmu. Ibu dan adikmu tak henti memimpikan hadirmu”, kata perempuan cantik
sedehana sambil mengusap lembut rambutku.
“Katakan padaku wanita camtik sederhana dimana aku harus mendapatkan
pagiku” Harapku.
“Pagimu ada di tanah kelahiran
dan hatimu. Bekerja keraslah. Jangan biarkan semangatmu surut. Hadirkan sejuk dan indah pagi di hatimu. Kau akan mendapatkan pagi indah
sepanjang usiamu. Yang terpenting jagalah mahkotamu hanya untuk lelaki sejati
yang berani menikahimu” Bisik wanita cantik sederhana. Bisikan itu mengalun indah memasuki relung
hati dan celah pori. Membuatku serasa lahir kembali. Lahir sebagai bidadari.
“Siapa kau sebenarnya wanita
cantik sederhana?”
“Akulah malaikat pagi yang kau
cari. Pergilah, bekerja keraslah, kelak
aku akan datang lagi mengantarkan sebongkah pagi. Aku tercenung meretas kepergiannya menyatu ke langit biru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar