![]() |
Antologi Pertama, PNBB dan Penerbit IMG |
Kira-kira
umur saya baru empat tahun saat itu, ketika ibu saya membelikan mainan berupa
replika alat-alat masak, ada panci kecil, kompor, pisau dan instrumen dapur
lainnya, bahannya dari plastik, berwarna-warni. Ketika itu saya menyebutnya
masak-masakan. Mainan seperti ini banyak
di jumpai di pasar-pasar tradisional.
Sebelum
masuk TK saya bermain sendirian. Karena saya anak pertama dan adik saya kala
itu masih bayi, praktis tak ada kawan saya bermain masak-masak-an. Meskipun
saya bermain seorang diri namun ‘dunia’ saya sangat riuh. Terkadang saya
menirukan bunyi aneka bahan makanan ketika proses memasak. Mulut kecil saya
berbunyi sreeengg menirukan bunyi
sepotong tempe yang meluncur di penggorengan atau blukuthuk.....blukhuthuk
untuk air yang mendidih. Kadang-kadang saya juga membawa sebuah boneka,
yang dalam film masa kecil part masak-masak-an berperan sebagai anak saya. Saya
memperlakukan boneka itu seolah-olah ia hidup. Cup....cup...jangan nangis Dek, makan dulu gih.....aaaaa...aem. Sambil
masak-masak-an mulut saya tak berhenti berbicara.
Permainan
ini terus berlanjut hingga saya memasuki sekolah dasar. Teman bermain saya tak
hanya boneka sekarang. Setiap hari setelah pulang sekolah beberapa teman bermain di runah saya. Ya.. bermain
masak-masak-an. Tak hanya perempuan, laki-lakipun ada. Rumah saya yang awal-nya
sudah ramai oleh celoteh saya sekarang semakin ramai.
Bermainnya
pun tak lagi memakai replika alat masak plastik. Tapi alat masak sungguhan
Kawan!!!. Kami memborong alat-alat masak ibu di dapur. Kami tanya ibu, apakah
alat tersebut masih dipakai atau tidak. Tentu saja kebanyakan alat tersebut
masih layak pakai. Tapi memang dasar kami anak-anak nakal. Meskipun sudah
diberi tahu alat mana yang boleh untuk ‘dapur bayangan’ namun tak jarang kami
pun mengambil alat-alat yang masih layak. Tentu saja ibuku mencak-mencak,
untung ada Mbah Putri yang selalu membela kami anak-anak ingusan yang mulai
badung. Akhirnya terjadilah MoU diantara kami dengan ibu bahwa alat masak yang
masih laik pakai itu harus kembali seperti awal kami meminjam. Artinya, kami
harus belajar mencuci perkakas itu sendiri dan mengembalikan ke tempat semula.
Kami pun manggut-mangut
Alat
masak kami kini benar-benar nyata. Ada piring, pisau, panci kecil yang
pantatnya sangat hitam saking seringnya dipakai memasak ditungku, sendok garpu,
ember. Dapur kami adalah di bawah pohom rambutan samping rumah mbah. Disitu
adalah tempat yang nyaman bagi kami. Pohon rambutan yang rimbun, pohon rambutan
itu tak sendirian menjadi saksi masa kecilku, ada pohon cempedak, janmbu
darsono, jambu air, sirsak dan jambu
benik. Jambu inilah yang mendominasi kebun mbah. Ada sekitar dua puluh pohon
benik tertanam disitu, buahnya yang merah merekah dan bentuknya yang imut-imut
ditambah lagi pohonnya yang tak terlalu tinggi menjadikan jambu benik adalah
buah favorit kami di kebun ini.
Seingat
saya ada aneka ‘masakan’kami kala itu. Sayur lodeh versi kami adalah dedaunan
yang banyak tumbuh disitu . Daun itu kami iris-iris kecil dan dimasukkan ke
panci ditambah air yang diambil dari kolam ikan di samping pohon rambutan
dengan ember kecil. Masih lekat diingatan saya bagaimana ‘resep’ kacang telur
versi kami. Kacang yang kami maksud buah dari tumbubuhan liar berwarna merah
dan hijau, bentuknya kecil dan keras. Sedangkan kulitnya adalah tanah lembek,
tanah yang sebelumnya telah kami campur dengan air. Kami pun memisahkan wadah
kacang dan kulitnya. Saya sangat senang ketika didaulat menjadi kokinya. Saya
menirukan gaya Sisca Soetomo, koki yang memadu sebuah progran memasak di sebuah
stasiun televisi swasta. Setiap hari ibu saya selalu menyempatkan diri nonton
program itu Bila sekarang koki perempuan yang terkenal adalah Farah Quinn maka
Sisca Soetomolah yang merajai program memasak kala itu. Cara membuat kacang
telur versi kami adalah (Please....jangan
tertawa ya hihi)
1.
Biji
dibersihkan dengan air yang kami ambil di kolam ikan. Amis banget
2. Kami masukkan ‘kacang-kacang’ itu pada
wadah yang telah berisi tanah lembek.Kami aduk-aduk dengan tangan telanjang.
3. Setelah tercampur rata kami campur
‘kacang itu dengan tanah kering
4. Dan yang terakhir kami goreng. Pura-pura
“Nah pemirsa,
inilah kacang telur hasil buatan kita hari ini. Anda bisa melihat resep
ini di majalah NOVA yang terbit setiap minggunya. Sampai Jumpa”, begitulah
cara saya menutup acara masak menirukan gaya Sisca Soetomo.
Ketika lelah mendera, maka kami akan
berhenti bermain masak-masakan dan beralih ke pohon-pohon buah. Teman saya
segera memanjat pohon jambu benik dan dan saya methangkring di sela-sela batang pohonnya yang bercabang dua dari
bawah sambil menegadahkan tangan menangkap buah yang dijatuhkan. Kadang kami
berjingkat-jingkat, mengibas-ngibaskan pakaian saat semut-semut kecil berwarna
hitam yang ‘mendiami’ pohon benik marah dan merubung kami. Tak jarang saya maan
jambu yang di dalamnya ada kawanan semut hitam itu. Kontan saja saya langsung
meringis merem melek. Kombinasi jambu yang segar ditambah semut-semut di
dalamnya.Hmmm....rasanya pedas minta ampun. Bila bosan dengan jambu benik maka
kami beralih ke jambu air. Temanku yang laki-laki mendapat bagian memanjat
pohonnya. Karena pohon jambu ini tingginya hampir menyamai rumah Mbah.
Sementara kami para perempuan bertugas membentangkan selendang yang saya pinjam
langsung dari empunya, Mbah Putri
tercinta. Empat ujung selendang kami pegang kuat-kuat sambil mendongakkan
kepala. Bila arah jambu jatuh ke kanan maka kami ‘tim selendang’ akan bergerak
ke kiri. Begitu seterusnya sampai teman kami ‘tim pemanjat’ turun dari pohon.
Kepala kami ‘tim selendang serasa patah karena terlalu banyak mendongak,
berkali-kali kami menekukkan kepala kekanan dan kekiri, pegal sekali rasanya.
Permainan
masak-masakan kami tak berhenti sampai disitu. Kami mulai berani mewujudkan
dapur yang asli. Dengan menggunakan empat buah batu bata bekas yang kami susun
dua dua berjajar dengan jarak kira-kira tujuh cm di bagian tengahnya. Itulah luweng kami. Jarak yang ada diantara batu-bata itu
kami isi macam-macam benda yang bisa terbakar sebagai bahan bakarnya. Tak hanya
kayu dan ranting yang berserakan di kebun tapi juga plastik-plastik yang kami
cari langsung di joglangan. Dengan
bermodal sekotak kecil korek api yang kami ambil di dapur mulailah acara masak
kami. Masak yang sesungguhnya Kawan !!!. Kali ini mulutku tak harus berbunyi blukuthuk....blukuthuk...menirukan air
mendidih. Dan tak harus berbunyi sreng....sreng...menirukan
bunyi wajan yang bekerja. Semuanya berbunyi secara alami karena ada api sebagai
sumber panasnya.
Bermain masak-masakan seperti ini
sering membuatku lupa waktu. Kadang ibuku harus berteriak-teriak dari dalam
rumah, karena sudah masuk waktu Ashar dan saatnya mengaji Al-Qur’an di masjid
dan aku masih asyik bermain. Bisa dipastikan ibuku bersungut-sungut setelah aku
bermain masak-masakan. Bagaimana tidak, pipiku coreng moreng terkena jelaga,
baukupun asem plus sangit karena seharian bermain dibawah terik matahari dan
asap mengepul dari luweng amatir.
Ditambah lagi kami hampir selalu meninggalkan begitu saja alat-alat masak di
kebun tanpa membereskannya terlebih dulu. Jangan
ditiru ya..hehe
Menuliskan
cerita ini membuat saya semakin paham bahwa manusia punya fitrahnya
masing-masing. Saya yang seorang perempuan meskipun masih kecil kala itu sangat
gemar bermain masak-masakan yang notabene pekerjaan perempuan meskipun tak
dipungkiri banyak juga lelaki yang pandai memasak. Sementara itu dua adik
laki-laki saya senang bermain layang-layang, mobil-mobilan dll.
Masak-masakan, memang hanyalah
sebuah permainan, namun bagi saya permainan jenis membawa banyak pelajaran bagi
hidup saya kala itu. Dimana saya belajar untuk bersosialisasi dengan berbagai
teman, laki-laki dan perempuan yang silih berganti menjadi partner dalam ‘film
‘ masa kecil saya. Sekarang, sangat jarang saya temukan anak-anak yang bermain
masak-masakan kebanyakan anak kecil lebih senang bermain game dari
handphonenya. Entahlah, apakah masih ada penjual mainan diluar sana yang
menjual replika perkakas dapur dari plastik seperti yang saya miliki lima belas
tahun lalu, kalaupun masih ada penjualnya, apakah masih ada anak kecil yang
berkeinginan memilikinya???
Sebuah
kenangan masa kecil di sebuah desa di selatan Kabupaten Kediri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar